• Status Order
  • Telp.: 6285643965987
  • SMS/WA: 085643965987
  • Line : asconline
  • BBM : 5F364A31
  • info@komputermurahjogja.com
Terpopuler:

Facebook Hapus 583 Juta Akun Palsu

16 Mei 2018 - Kategori Blog

Jakarta: Bulan lalu, Facebook merilis panduan regulasi konten untuk pertama kalinya. Sekarang, perusahaan media sosial itu memberikan laporan pertama terkait tindakan yang mereka lakukan pada konten ilegal. Laporan ini mungkin akan dirilis setiap kuartal.

Dalam laporan itu, Facebook membahas tentang konten serta akun yang telah mereka blokir terkait enam masalah yang berbeda yaitu kekerasan eksplisit, kegiatan seksual dan ketelanjangan, propaganda teroris, ujaran kebencian, spam juga akun palsu.

Melalui laporan tersebut, Facebook menjelaskan bagaimana konten tersebut dilihat oleh penggunanya, berapa banyak konten yang telah Facebook hapus dan berapa banyak konten yang dihapus sebelum dilaporkan oleh pengguna Facebook, lapor Engadget.

Dalam kuartal ini, spam dan akun palsu adalah masalah terbesar yang harus Facebook hadapi. Facebook menghapus 837 juta konten spam dan 583 juta akun palsu.

Mereka juga telah menindak 21 juta konten terkait kegiatan seksual, 3,5 juta konten yang mengandung kekerasan, 2,5 juta konten ujaran kebencian dan 1,9 juta konten terorisme.

Dalam beberapa kasus, sistem algoritma Facebook dapat menemukan dan menandai konten bermasalah sebelum pengguna melaporkannya.

Sistem mereka berhasil menemukan hampir 100 persen konten spam dan propaganda terorisme, hampir 99 persen akun palsu dan sekitar 96 persen post dengan aktivitas seksual.

Sementara tingkat akurasi sistem Facebook untuk mengenali kekerasan eksplisit mencapai 86 persen. Sayangnya, Facebook masih kesulitan untuk menandai konten ujaran kebencian. Sistem mereka hanya bisa menandai sekitar 38 persen dari post yang akhirnya mereka tindak.

“Seperti yang Mark Zuckerberg katakan di F8, kami masih punya banyak tugas untuk menghentikan konten ilegal,” kata VP of Product Management, Guy Rosen dalam sebuah blog post.

“Salah satu alasannya adalah karena meski teknologi seperti kecerdasan buatan memang menjanjikan, tapi ia masih perlu dikembangkan untuk bisa mengenali konten ilegal karena konteks memiliki peran penting.”

 

Sumber: Metrotvnews.com